BANDUNG, JAWA BARAT — Karang Taruna tidak boleh berhenti sebagai organisasi kepemudaan yang aktif secara administratif. Di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, organisasi ini dituntut mampu hadir, bergerak, dan memberikan manfaat nyata.

Pesan tersebut disampaikan Ketua DPC PPSI Kecamatan Ketapang Deden Kandi saat menghadiri bakti sosial Karang Taruna RW 11 Desa Pangauban, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Bandung, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di Padepokan Sinar Banten itu diisi dengan khitanan massal dan bantuan sosial bagi warga. Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemuda, tokoh masyarakat, keluarga besar Padepokan Sinar Banten, dan warga dalam membangun kepedulian dari lingkungan paling dekat.
Kehadiran Deden Kandi bukan sekadar memenuhi undangan. Ia memberikan dorongan agar energi kepemudaan diarahkan pada kegiatan yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat.
Menurut Deden, kekuatan Karang Taruna justru terletak pada kedekatannya dengan masyarakat. Karena itu, pemuda harus mampu menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan sosial di lingkungannya.
«“Hari ini bagaimana kita bisa bermanfaat untuk masyarakat yang membutuhkan. Kepedulian seperti ini harus terus dipelihara karena masyarakat membutuhkan kebersamaan dan kehadiran kita,” ujar Deden.»
Ia menegaskan, semangat kemerdekaan harus diterjemahkan melalui tindakan yang memiliki manfaat. Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan, maka generasi sekarang memiliki ruang perjuangan yang berbeda, yakni membangun kepedulian, memperkuat persatuan, dan mengabdikan diri kepada masyarakat.
«“Ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada bangsa dan para pejuang yang telah mempertahankan kemerdekaan. Sekarang tugas kita mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat,” katanya.»
Karang Taruna Jangan Hanya Hadir Saat Seremonial
Deden mendorong agar Karang Taruna tidak hanya muncul ketika ada agenda seremonial. Lebih jauh, organisasi kepemudaan tersebut perlu membangun kepekaan sosial dan konsistensi dalam mendampingi masyarakat.
Menurutnya, kegiatan seperti khitanan massal dan bantuan sosial merupakan contoh bahwa pemuda memiliki kapasitas untuk mengorganisasi kekuatan masyarakat sekaligus menghadirkan manfaat secara langsung.
“Karang Taruna harus terus hadir di tengah masyarakat. Jangan hanya aktif ketika ada kegiatan, tetapi harus mampu melihat apa yang dibutuhkan warga dan bagaimana kita bisa ikut memberikan solusi,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan Karang Taruna bukan sekadar wadah berkumpulnya pemuda, melainkan sebagai salah satu motor sosial yang dapat menggerakkan semangat gotong royong di tingkat lingkungan.
Deden juga mengapresiasi Karang Taruna RW 11 Desa Pangauban, keluarga besar Sinar Banten, tokoh masyarakat, serta seluruh warga yang telah ikut menyukseskan kegiatan.
Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan. Semangat kebersamaan perlu dijadikan modal sosial untuk menghadirkan kegiatan lain yang memiliki manfaat lebih luas.
Ketokohan yang Diterjemahkan Lewat Kepedulian
Bagi Deden Kandi, keberadaan tokoh di tengah masyarakat seharusnya tidak sebatas memberikan pesan atau menghadiri kegiatan. Kehadiran tokoh juga diharapkan mampu memberikan penguatan, motivasi, serta membuka ruang kolaborasi bagi generasi muda.
Karena itu, dukungannya terhadap kegiatan Karang Taruna menjadi bagian dari pesan yang lebih luas: bahwa pemuda harus memiliki keberanian untuk bergerak dan masyarakat harus memiliki ruang untuk bergotong royong.
“Kita berharap kegiatan seperti ini terus berkembang. Pemuda harus hadir, bergerak, dan memberikan manfaat. Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi bagaimana kita mengisinya dengan pengabdian hari ini,” tuturnya.”
REDAKSI.




