JAWA BARAT — Di tengah derasnya perubahan budaya dan kehidupan digital, Siska N. Humaira mengajak masyarakat Sunda kembali mengenali akar pengetahuan leluhur melalui Siksakandang Karesian. Bagi figur perempuan yang aktif dalam gerakan edukasi budaya tersebut, warisan leluhur tidak seharusnya berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi perlu dihidupkan menjadi pedoman perilaku masyarakat masa kini.
Siksakandang Karesian dikenal sebagai salah satu naskah penting dalam tradisi tulis Sunda Kuno. Kajian arkeologi BRIN mencatat rujukan Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian sebagai naskah Sunda kuno tahun 1518 Masehi.
Menurut Siska, kekuatan warisan tersebut justru terletak pada kandungan nilai kehidupannya. Ajarannya berbicara tentang etika, pengetahuan, pekerjaan, hubungan antarmanusia, kesenian, tanggung jawab, hingga hubungan manusia dengan lingkungan.
Ia menilai nilai-nilai tersebut masih sangat relevan ketika masyarakat menghadapi persoalan seperti hilangnya rasa hormat, individualisme, ketidakjujuran, iri hati, fitnah, serta melemahnya tanggung jawab sosial.
“Jangan hanya mengaku urang Sunda. Kesundaan harus terlihat dari perilaku,” menjadi pesan utama Siska dalam mendorong penguatan kembali karakter masyarakat Sunda.
Menurutnya, konsep seperti dasa sila, dasa marga, dasa indriya, dasa prebakti, catur yatna, dan panca byapara menunjukkan bahwa leluhur Sunda memiliki perhatian terhadap pembentukan manusia yang beretika, berpengetahuan dan bertanggung jawab.
Demikian pula gagasan ngretakeun bumi lamba dapat dimaknai sebagai dorongan untuk menjaga serta menyejahterakan kehidupan. Prinsip tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat modern yang menghadapi persoalan lingkungan, sosial dan perubahan karakter generasi.
Perempuan dan Masa Depan Budaya Sunda
Siska menempatkan perempuan sebagai salah satu kekuatan penting dalam menjaga kesinambungan budaya.
Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama untuk mengenalkan nilai kepada anak. Karena itu, perempuan tidak hanya berperan menjaga tradisi, tetapi juga dapat menjadi pendidik karakter, penghubung antargenerasi dan penggerak kesadaran budaya.
Ia mendorong agar pengenalan Siksakandang Karesian dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Tidak cukup hanya membaca naskah kuno, tetapi nilai-nilainya harus diterjemahkan menjadi kebiasaan: jujur, amanah, rajin, teliti, tidak mengambil hak orang lain, tidak memfitnah, mampu menerima kritik, menghormati sesama dan menjaga alam.
Siska juga melihat kekayaan Siksakandang Karesian dari banyaknya gambaran mengenai profesi, keahlian, kesenian, permainan, kain, ukiran, musik, sastra dan berbagai bentuk pengetahuan masyarakat Sunda.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan Sunda memiliki tradisi pengetahuan yang luas. Karena itu, generasi muda perlu melihat budaya bukan sekadar simbol identitas, melainkan sebagai sumber pendidikan dan pembentukan karakter.
Dari Warisan Leluhur Menjadi Kekuatan Masyarakat
Siska berharap gerakan mengenal kembali Siksakandang Karesian dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat jati diri masyarakat Sunda tanpa menutup diri terhadap perkembangan zaman.
Teknologi, menurutnya, justru dapat digunakan untuk memperkenalkan kembali pengetahuan leluhur melalui pendidikan dan ruang digital.
Baginya, modernitas dan budaya tidak harus dipertentangkan. Generasi muda dapat menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan modern sekaligus tetap memiliki akar budaya yang kuat.
Pesan Siska pada akhirnya mengarah pada satu hal: warisan budaya akan benar-benar hidup apabila nilai yang terkandung di dalamnya menjadi perilaku.
Dengan perspektif itu, Siksakandang Karesian tidak hanya ditempatkan sebagai naskah sejarah, tetapi sebagai sumber refleksi untuk membangun manusia Sunda yang berkarakter, berilmu, bertanggung jawab dan mampu menjaga keseimbangan kehidupan.
Di tengah perubahan zaman, suara Siska N. Humaira menjadi pengingat bahwa mengenal leluhur bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan mengambil nilai terbaik dari masa lalu untuk memperkuat masa depan.Tutupnya.”
Sumber Redaksi: Siska N Humaira,SH.Mkn.LLL.




