MERANGIN-Pawai bertema Nusantara menjadi sebuah perjalanan indah bagi SD Negeri 222/VI Tanjung Rejo dalam mengenalkan keberagaman budaya Indonesia.
Dengan balutan pakaian adat, sajian makanan tradisional, rumah adat, tarian, serta berbagai persembahan budaya dari pelosok Nusantara, seluruh peserta hadir membawa identitas dan cerita yang dipersiapkan dengan penuh semangat.
Yang membuat persembahan ini semakin istimewa, hampir 100 persen perlengkapan dan ornamen yang ditampilkan merupakan hasil kreativitas tangan. Dari tangan anak-anak hebat, guru-guru hebat, serta dukungan orang tua yang luar biasa, lahirlah karya yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menjadi bukti nyata tentang kerja keras, kreativitas, ketekunan, dan kebersamaan.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah drama yang mengangkat beberapa bahasa daerah Nusantara. Dialog antardaerah dikemas menjadi pertunjukan yang hidup, menghibur, sekaligus menggambarkan betapa indahnya Indonesia dalam keberagamannya. Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan dari para penonton.
Tak kalah mencengangkan, sebuah bendera panjang dikibarkan dan membentang di lapangan. Kibaran bendera tersebut bergerak mengikuti irama dan langkah para peserta, menghadirkan sebuah pemandangan yang begitu memukau sekaligus menjadi simbol persatuan dan semangat kebangsaan.
Di balik seluruh penampilan tersebut, terdapat proses panjang yang tidak terlihat di atas panggung. Ada tangan-tangan kecil yang berkarya, guru-guru yang membimbing, serta orang tua yang memberikan dukungan luar biasa.
Anak-anak belajar bahwa karya yang bermakna tidak selalu lahir dari sesuatu yang mahal, tetapi dari ide, kreativitas, ketulusan, dan kemauan untuk bekerja bersama.
Karena itu, ketika hasil belum berpihak kepada SD Negeri 222/VI Tanjung Rejo, tentu ada rasa kecewa. Namun kekecewaan tersebut tidak mengurangi rasa hormat terhadap hasil perlombaan maupun perjuangan peserta lainnya.
Kepala SD Negeri 222/VI Tanjung Rejo, Ilham, M.Pd., mengatakan, semangat yang dibangun adalah menerima setiap hasil dengan lapang dada, sembari tetap menghargai proses dan perjuangan seluruh peserta didik. Kecewa boleh, sebab kita tahu betapa banyak hati yang sudah bekerja. Namun menurut dia, kemenangan bukan satu-satunya ukuran perjuangan. Kadang, yang kalah di penilaian justru sedang menang dalam belajar tentang ikhlas, tentang menerima, dan tentang tetap menghargai perjuangan. Mungkin Kalah dalam Penilaian, tetapi Menang di Hati Penonton
“Piala mungkin belum menjadi milik kami hari ini. Namun pengalaman, kebersamaan, keberanian, kreativitas, dan rasa bangga yang tumbuh dari perjuangan ini adalah kemenangan yang jauh lebih bermakna,”kata Ilham M.Pd kepala sekolah setempat, Rabu, (19/08/2026).
Dikatakan Ilham, tidak semua kemenangan berbentuk piala. Ada kemenangan yang hadir melalui senyum, tepuk tangan, dan hati orang-orang yang menyaksikan.
“Untuk anak-anak hebat, guru-guru hebat, dan orang tua yang luar biasa, kami ucapkan terima kasih telah mengubah ide menjadi karya, kerja keras menjadi persembahan, dan kebersamaan menjadi sebuah cerita yang akan selalu kami kenang,”jelasnya.
“Hari ini mungkin kami tidak membawa pulang piala.
Tetapi kami membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga, karena
SD Negeri 222/VI Tanjung Rejo merayakan nusantara dengan karya, kreativitas, keberagaman, dan hati,”pungkasnya.
Reporter : Yazdi




