HALMAHERA SELATAN – Kepala Desa (Kades) Lemo Lemo, Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Hamisi Taher, secara tegas membantah tuduhan yang menyebut dirinya bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Lemo Lemo diduga mengabaikan seorang pasien yang membutuhkan pertolongan medis untuk dibawa ke Babang guna mendapatkan perawatan lanjutan di rumah sakit.
Hamisi Taher menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak sesuai dengan kronologi kejadian yang sebenarnya. Ia menyebut tuduhan bahwa dirinya lebih mementingkan urusan pribadi daripada membantu warga yang membutuhkan pertolongan sebagai informasi yang tidak mendasar dan perlu diluruskan.
Dalam keterangannya, Hamisi menjelaskan bahwa persoalan tersebut bermula ketika seorang bidan yang dikenalnya datang dan berkomunikasi dengannya terkait rencana membawa suaminya yang sedang sakit ke Babang untuk mendapatkan pengobatan di rumah sakit.
Menurut Hamisi, bidan tersebut memiliki hubungan keluarga dengannya, yakni sebagai keponakannya. Pada saat itu, ia mengakui sedang disibukkan dengan persiapan acara pernikahan anaknya yang dijadwalkan berlangsung keesokan harinya.
“Memang benar, besok anak saya menikah. Saat itu, ibu bidan datang dan bertanya apakah saya sedang sibuk. Saya menjawab bahwa saya memang sedang agak sibuk karena ada persiapan pernikahan anak,” jelas Hamisi Taher saat memberikan klarifikasi.
Meski mengakui memiliki kesibukan keluarga, Hamisi menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyampaikan larangan kepada bidan tersebut untuk membawa suaminya berobat. Ia justru mengaku telah mempersilakan yang bersangkutan menggunakan perahu beserta mesinnya apabila hendak mengantarkan suaminya ke Babang.
Namun, menurut penjelasannya, kondisi air laut yang sedang surut saat itu menjadi kendala karena perahu belum dapat diturunkan ke laut.
“Saya sampaikan kepada ibu bidan, silakan kalau mau mengantar suaminya. Ada bodi dan mesinnya. Tetapi, saat itu air sedang surut sehingga bodi belum bisa diturunkan ke laut. Itu yang saya jelaskan kepada ibu bidan,” ungkapnya.
Hamisi menegaskan bahwa penjelasan mengenai kondisi air laut tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari kronologi kejadian, bukan sebagai bentuk penolakan untuk membantu pasien yang membutuhkan pertolongan.
Kades Jelaskan Alasan Menunggu Pengantaran Tenda
Lebih lanjut, Hamisi mengungkapkan bahwa pada saat kejadian dirinya juga sedang menunggu kedatangan warga dari Desa Tawa yang bertanggung jawab mengantarkan tenda untuk keperluan acara pernikahan anaknya.
Ia menjelaskan, tenda yang akan digunakan dalam acara tersebut merupakan tenda yang pengantarannya menjadi tanggung jawab pihak dari Desa Tawa. Karena adanya kesepakatan tersebut, Hamisi mengaku awalnya menunggu kedatangan warga yang membawa tenda ke lokasi acara.
Namun, hingga sore hari, warga yang ditunggu belum juga tiba. Situasi itu membuat dirinya harus mencari cara lain agar persiapan acara keluarga dapat segera diselesaikan.
“Iya, benar anak saya menikah besok. Saya menggunakan tenda dari Desa Tawa, dan biasanya mereka yang langsung mengantarkan tenda ke tempat acara. Karena sudah ada kesepakatan, saya menunggu kedatangan mereka,” jelasnya.
Ia melanjutkan, setelah waktu berjalan hingga sore hari dan warga yang ditunggu belum datang, istrinya sempat mempertanyakan keterlambatan tersebut.
Hamisi kemudian memutuskan membeli bahan bakar minyak (BBM) untuk mengambil tenda menggunakan perahu milik warga Desa Lemo Lemo.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena di Desa Lemo Lemo terdapat sejumlah perahu yang bisa digunakan untuk membantu proses pengangkutan tenda, sehingga persiapan pernikahan anaknya tidak semakin terlambat.
Bertemu Bidan Saat Membeli BBM
Dalam rangkaian peristiwa itu, Hamisi mengaku mendatangi sebuah warung milik bidan yang sebelumnya meminta bantuan untuk mengantarkan suaminya berobat.
Saat tiba di warung tersebut, ia mengaku terkejut karena kembali bertemu dengan bidan yang bersangkutan.
Hamisi kemudian menanyakan kembali rencana keberangkatan bidan tersebut untuk membawa suaminya ke Babang.
“Saat saya pergi membeli minyak di warung ibu bidan, saya melihat beliau ada di sana dan saya kaget. Saya kemudian bertanya, ‘Ibu bidan, mau mengantar suami ke Babang?’ Lalu beliau menjawab bahwa belum jadi dan rencananya baru akan berangkat besok pagi karena kebetulan saat itu sudah malam,” tutur Hamisi.
Berdasarkan percakapan tersebut, Hamisi menyatakan bahwa dirinya memahami rencana keberangkatan pasien telah berubah menjadi keesokan pagi. Karena itu, ia membantah tuduhan bahwa dirinya sengaja membiarkan pasien tanpa memberikan kesempatan untuk menggunakan perahu yang tersedia.
Meski demikian, kronologi tersebut merupakan penjelasan dari pihak kepala desa. Untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai kejadian, keterangan dari bidan yang bersangkutan serta informasi mengenai kondisi pasien dan waktu keberangkatan tetap penting untuk dikonfirmasi.
Hamisi Tegaskan Tidak Mengabaikan Pasien
Hamisi Taher kembali menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat mengabaikan warga yang sedang sakit. Ia menilai tuduhan yang menyebut dirinya lebih mementingkan kepentingan pribadi perlu dilihat berdasarkan keseluruhan kronologi, termasuk komunikasi yang berlangsung dengan bidan serta kendala kondisi air laut pada saat itu.
Ia juga menyayangkan beredarnya informasi yang menurutnya tidak menggambarkan kejadian secara utuh.
“Jadi, tuduhan dan informasi itu tidak benar. Saya merasa informasi tersebut merupakan fitnah karena tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Saya juga sudah mengetahui siapa yang memberikan informasi itu, tetapi tidak apa-apa,” tegas Hamisi.
Ia berharap masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu sisi informasi. Menurutnya, persoalan tersebut sebaiknya dilihat secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman antara pemerintah desa dan masyarakat.
Hamisi juga menekankan bahwa kesibukan keluarga yang sedang dijalaninya tidak dapat serta-merta dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa dirinya menolak membantu pasien. Ia meminta agar keterangannya mengenai ketersediaan perahu, kondisi air laut, serta percakapan dengan bidan turut menjadi pertimbangan dalam menilai persoalan tersebut.
Klarifikasi Dibutuhkan agar Persoalan Menjadi Jelas
Persoalan ini menjadi pengingat bahwa penanganan warga yang membutuhkan pertolongan medis, terutama ketika harus dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar desa, memerlukan komunikasi yang jelas dan koordinasi yang baik.
Dalam situasi darurat, ketersediaan transportasi laut, kondisi pasang surut air, serta kecepatan koordinasi antarpihak dapat menjadi faktor penting dalam proses evakuasi pasien.
Di sisi lain, tuduhan mengenai pengabaian pasien juga perlu ditelusuri secara cermat dengan mendengarkan keterangan seluruh pihak yang terlibat, termasuk pihak keluarga pasien dan pemerintah desa. Langkah tersebut penting agar informasi yang berkembang di tengah masyarakat tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Hingga klarifikasi ini disampaikan, Hamisi Taher tetap membantah tuduhan bahwa dirinya sengaja mengabaikan pasien atau lebih mementingkan urusan pribadi. Ia menegaskan bahwa keterangannya merupakan penjelasan atas kejadian yang sebenarnya menurut versinya.
Adapun kepastian mengenai keseluruhan peristiwa, termasuk kondisi pasien, waktu keberangkatan ke Babang, serta alasan perubahan rencana perjalanan, masih perlu dipastikan melalui konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat memperoleh informasi yang lebih berimbang dan dapat memahami persoalan tersebut berdasarkan keterangan yang lengkap, bukan semata-mata dari tuduhan yang belum terverifikasi.
Kabiro Halsel.
(Alimudin)







