HALMAHERA SELATAN — Insiden perkelahian yang melibatkan dua siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 68 Halmahera Selatan (Halsel) diduga terjadi di lingkungan sekolah, Desa Wosi, Kecamatan Gane Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Peristiwa tersebut disebut terjadi pada Selasa pagi sekitar pukul 10.00 WIT. Insiden itu kemudian menjadi perhatian setelah video yang memperlihatkan aksi perkelahian kedua siswi tersebut beredar dan diterima media ini.
Dalam video yang diperoleh media ini, tampak sejumlah siswi berseragam sekolah berada di sekitar lokasi. Sementara itu, terlihat dua siswi terlibat kontak fisik hingga salah seorang siswi berada di tanah. Beberapa siswa lainnya tampak berada di sekitar tempat kejadian.
Berdasarkan informasi yang diterima media ini dari sumber internal sekolah, perkelahian tersebut melibatkan dua siswi yang disebut berasal dari desa berbeda di Kecamatan Gane Timur.
Sumber menyebut, salah seorang siswi berinisial/nama Desmi, yang disebut berasal dari Desa Botonan, diduga terlibat sebagai pihak yang melakukan pemukulan.
Sementara siswi lainnya, Riyanti Mansun, disebut berasal dari Desa tanjung jeret dan diduga menjadi korban dalam kejadian tersebut.
Menurut keterangan sumber, korban diduga mengalami luka pada bagian sekitar leher/dahi setelah terjadi aksi cekikan dalam perkelahian tersebut.
“Yang tidak menggunakan jilbab itu Dasmi, asal Desa Botonan. Sementara yang menggunakan jilbab berasal dari Desa tanjung jeret dan menjadi korban. Korban mengalami luka di bagian leher setelah diduga dicekik,” ujar sumber melalui keterangan yang diterima media ini.
Meski demikian, seluruh keterangan mengenai kronologi dan pihak yang terlibat masih perlu diklarifikasi secara menyeluruh oleh pihak sekolah maupun orang tua masing-masing siswi.
Media ini tidak bermaksud memberikan vonis atau menetapkan siapa yang bersalah sebelum adanya penjelasan resmi dan proses penyelesaian dari pihak terkait.
Sumber internal juga menyampaikan bahwa persoalan tersebut belum sepenuhnya diselesaikan oleh pihak sekolah. Padahal, kejadian tersebut disebut telah berlangsung sejak Selasa.
Kondisi tersebut memunculkan perhatian terhadap pentingnya langkah cepat pihak sekolah dalam menangani setiap bentuk kekerasan atau perkelahian antarsiswa di lingkungan pendidikan.
Penyelesaian tidak hanya penting untuk mengetahui kronologi sebenarnya, tetapi juga untuk memastikan kondisi kedua siswi tetap aman, mencegah terjadinya aksi lanjutan, serta memberikan pembinaan kepada para siswa yang terlibat.
Terlebih lagi, apabila benar terdapat siswa yang mengalami luka akibat perkelahian, maka kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pihak sekolah dan orang tua.
Sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif. Setiap persoalan antarsiswa idealnya segera ditangani melalui pemanggilan pihak-pihak terkait, termasuk siswa yang bersangkutan dan orang tua/wali masing-masing.
Sementara itu, Kepala SMPN 68 Halmahera Selatan, Tuti Samad, ketika dikonfirmasi media ini melalui pesan WhatsApp, membenarkan adanya kejadian perkelahian yang melibatkan siswi di lingkungan sekolah.
Kepala sekolah mengatakan dirinya telah memberikan instruksi kepada dewan guru untuk memanggil kedua orang tua siswa yang terlibat guna membicarakan dan menyelesaikan persoalan tersebut.
“Iya, kejadian itu. Saya sudah perintahkan dewan guru untuk panggil kedua orang tua siswa, untuk selesaikan kejadian tersebut tapi orang tuanya tidak merasa puas jadi nanti saya balik baru saya selesaikan lagi saya tidak lari dari tanggung jawab,” demikian keterangan Kepala SMPN 68 Halsel melalui pesan suara WhatsApp.
Tuti Samad juga menjelaskan bahwa dirinya saat ini sedang berada di Bacan karena ada urusan tertentu. Ia menegaskan bahwa keberadaannya di luar sekolah bukan berarti meninggalkan tanggung jawab sebagai kepala sekolah.
“Saya sementara di Bacan ada urusan. Saya bukan tinggalkan tanggung jawab. Saya balik dari Bacan baru saya selesaikan. Saya bukan lari atau tidak tanggung jawab, tapi saya ada urusan,” jelasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pihak sekolah menyatakan akan tetap menangani persoalan tersebut setelah kepala sekolah kembali.
Peristiwa perkelahian di lingkungan sekolah menjadi perhatian karena sekolah seharusnya merupakan tempat bagi para siswa untuk belajar, mendapatkan pendidikan, serta membangun karakter dan kedisiplinan.
Jika konflik antarsiswa dibiarkan tanpa penanganan yang cepat dan tepat, dikhawatirkan persoalan tersebut dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar, terutama apabila melibatkan keluarga dari masing-masing siswa.
Karena itu, penyelesaian secara internal dengan melibatkan pihak sekolah, orang tua/wali siswa, serta pihak terkait dinilai penting agar persoalan dapat diselesaikan secara objektif dan tidak berkembang menjadi masalah baru.
Pihak sekolah juga diharapkan memberikan pembinaan kepada para siswa agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Apabila terdapat korban yang mengalami luka, kondisi kesehatan siswa tersebut juga perlu dipastikan dan mendapat perhatian yang semestinya.
Media ini juga mengingatkan bahwa identitas serta status masing-masing pihak dalam peristiwa tersebut masih berdasarkan
keterangan sumber dan klarifikasi awal.
Penetapan siapa yang menjadi pelaku maupun korban secara hukum tetap merupakan kewenangan pihak yang berwenang setelah dilakukan pemeriksaan dan klarifikasi.
Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya memperoleh keterangan lebih lanjut dari orang tua kedua siswi serta pihak-pihak terkait lainnya untuk mendapatkan informasi yang berimbang mengenai kronologi perkelahian tersebut.
Media ini terbuka terhadap hak jawab, klarifikasi, maupun informasi tambahan dari pihak sekolah, orang tua siswa, dan pihak terkait lainnya.
Biro Halsel: Alimudin.




