ACEH SINGKIL – 14 Agustus 2026
Di tengah gempuran arus informasi digital yang tak terbendung, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Aceh Singkil mengambil inisiatif strategis untuk membekali generasi muda dengan kemampuan literasi digital yang kritis dan kreatif.
Melalui kegiatan pembekalan peserta Lomba Video Konten Literasi tingkat kabupaten, instansi ini berupaya mencetak kreator konten yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dalam menyebarkan informasi.
Kegiatan yang berlangsung di Ketapang Indah, Kecamatan Singkil Utara, pada Rabu (12/8/2026), diikuti oleh 50 peserta berusia 17 hingga 35 tahun. Mereka merupakan representasi dari potensi pemuda daerah yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan melalui media sosial dan platform digital.
Kepala Dispusip Aceh Singkil, Suyatno, dalam arahannya menekankan bahwa teknologi informasi adalah pedang bermata dua. Ia mengajak para peserta untuk memanfaatkan alat tersebut demi kemaslahatan umat, bukan sebaliknya.
“Mari kita gunakan teknologi informasi untuk kebaikan, maka ia akan mendatangkan manfaat besar. Sebaliknya, jika disalahgunakan, dampaknya bisa berupa kehancuran sosial,” ujar Suyatno saat membuka acara secara resmi dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim.
Suyatno menjelaskan bahwa konsep literasi di era digital telah berkembang jauh melampaui kemampuan membaca dan menulis konvensional. Literasi kini mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima.
Hal ini menjadi benteng utama bagi masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam hoaks, berita bohong, atau konten provokatif.
“Konten adalah informasi. Karena itu, kepastian dan kebenaran data adalah harga mati. Kita ingin melahirkan konten yang informatif dan edukatif, bukan yang menyesatkan,” tegasnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Dispusip menghadirkan tiga narasumber berpengalaman dari kalangan jurnalis, yakni Roni Rahendra, Rofi Rahendra, dan Nazaruddin. Mereka berbagi wawasan praktis mengenai teknik pembuatan video yang menarik, etika jurnalistik dalam bermedia sosial, serta strategi verifikasi fakta.
Selain aspek teknis, Suyatno juga menyoroti pentingnya mentalitas seorang kreator. Ia meminta peserta untuk meninggalkan rasa gengsi dan membangun konsistensi serta kepercayaan diri dalam berkarya.
“Jika ingin menjadi konten kreator yang sukses, jauhkan gengsi. Tekuni pekerjaan, tetap konsisten, dan percaya diri dengan karya yang dihasilkan.
Ilmu yang didapat hari ini harus diterapkan untuk menghasilkan konten yang bermanfaat bagi masyarakat Aceh Singkil,” pesannya.
Kegiatan pembekalan ini menjadi bagian integral dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan indeks literasi masyarakat sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai alat edukasi.
Dengan adanya lomba ini, Dispusip berharap dapat menemukan talenta-talenta baru yang mampu menyajikan narasi positif tentang Aceh Singkil ke kancah yang lebih luas.
Para peserta antusias mengikuti sesi materi, menunjukkan tingginya minat generasi muda Aceh Singkil untuk terlibat aktif dalam ekosistem digital yang sehat dan produktif.(*)



