Beltim – Peristiwa terbakarnya sebuah bangunan kantor milik PT.Timah ( Persero ) di Desa Lenggang Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur pemicunya di duga ketidak pastian harga biji timah bahkan cenderung tidak stabil.
Puncak kekesalan massa yang berkumpul di area kantor yang dibakar, salah seorang warga mengatakan sehari sebelumnya warga yang antrian panjang untuk menjual biji timah ke pihak PT.Timah namun tiba-tiba uang habis sementara antrian warga masih panjang dan pulang tanpa hasil, kata warga tersebut, Jum’at ( 7/8/26 ).
Menurutnya, massa penambang timah yang menggeruduk kantor PT.Timah wilayah Beltim ini tidak terbendung lagi dan akhirnya terjadi aksi pembakaran.
Melihat kondisi bangunan yang terbakar, diduga kuat seluruh isi kantor ikut ludes dilalap si jago merah.
Aksi massa penambang yang memadati area kantor telah kumpul pada pagi hari dan diperkirakan terjadinya aksi pembakaran sebelum Sholat Jum’at. Kemudian massa penambang bergerak ke arah Gudang Biji Timah ( GBT ) dan disana para massa melakukan aksinya namun kobaran api di salah satu gudang sempat diselamatkan dengan pemadam dari pihak Kepolisian setempat.
Terpantau dilokasi GBT Lenggang sampai sore hari, para petugas keamanan dari berbagai Institusi melakukan pengamanan super ketat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dari aksi para penambang. Para petugas keamanan terdiri dari Polres Belitung, Polres Beltim, Kodim 0414/ Belitung, Yonif TP 845/KS serta Korps Brimob.
Setelah melakukan negosiasi antara pihak PT Timah dengan perwakilan massa penambang, ada poin yang dipegang para penambang yang disampaikan oleh pihak PT.Timah yakni harga timah per kilo berkisar Rp 200 ribuan dengan kadar kemurnian 73 dan meja goyang siap beroperasi. ( MR )



