Nusa Tenggara Timur — Global Investigasi News
Duka mendalam menyelimuti masyarakat di wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai, Manggarai Barat, serta masyarakat Manggarai Raya dan Flores, Nusa Tenggara Timur, pascagempa bumi yang dilaporkan terjadi pada 15 Agustus 2026.
Gempa yang disebut terjadi sekitar pukul 05.58 WITA tersebut membuat warga panik dan bergegas meninggalkan rumah menuju lokasi yang dianggap lebih aman. Sebagian masyarakat melakukan evakuasi darurat dan mendirikan tenda seadanya di dataran tinggi untuk menghindari kemungkinan dampak gempa susulan.
Kondisi semakin memprihatinkan ketika warga kembali melihat permukiman mereka. Sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan hingga roboh. Warga yang kehilangan tempat tinggal hanya dapat bertahan di lokasi pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Selama beberapa hari berada di pengungsian, masyarakat mengaku menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, air minum, obat-obatan, pakaian, serta kebutuhan anak-anak dan bayi.
Situasi tersebut juga berdampak terhadap kegiatan pendidikan. Para guru, siswa, dan orang tua murid menjadi kelompok yang turut merasakan dampak bencana.
Masyarakat menyoroti Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 300.2.1/4930/PK1.2 tentang pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB yang terdampak gempa bumi di daratan Flores.
Dalam surat tersebut, satuan pendidikan yang terdampak diarahkan untuk tetap melaksanakan aktivitas pembelajaran secara berkesinambungan dengan tetap memperhatikan kewaspadaan, termasuk kemungkinan pelaksanaan kegiatan di luar gedung sekolah.
Namun, sejumlah warga, guru, siswa, dan orang tua murid meminta agar kebijakan tersebut dikaji kembali dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan.
Menurut masyarakat, sebagian warga masih dalam suasana trauma pascagempa. Selain kehilangan tempat tinggal dan harta benda, kondisi fasilitas pendidikan di sejumlah lokasi juga disebut mengalami kerusakan.
“Semua warga, guru, siswa dan masyarakat umum masih dalam kondisi pemulihan setelah gempa. Banyak yang kehilangan tempat tinggal, pakaian, makanan dan kebutuhan lainnya. Karena itu, aktivitas seperti biasa masih sangat sulit dilakukan,” ungkap warga.
Orang tua siswa juga menyampaikan kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak mereka apabila harus kembali mengikuti kegiatan di sekolah maupun aktivitas lainnya di luar posko pengungsian, terlebih jika gempa susulan masih terjadi.
Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat mempertimbangkan kembali pelaksanaan pembelajaran tatap muka di wilayah terdampak hingga kondisi dinyatakan cukup aman oleh pihak berwenang.
Warga juga meminta Gubernur Nusa Tenggara Timur dan jajaran terkait melakukan evaluasi terhadap kondisi setiap satuan pendidikan sebelum kegiatan pembelajaran kembali dilaksanakan secara normal.
“Keselamatan anak-anak, guru dan masyarakat harus menjadi prioritas. Kami berharap pemerintah turun langsung melihat kondisi di lapangan sebelum menetapkan kebijakan pendidikan di wilayah terdampak bencana,” harap warga.
Masyarakat berharap pemerintah segera memperkuat penanganan darurat, memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, melakukan pendataan kerusakan rumah dan fasilitas umum, serta memberikan kepastian terkait keberlangsungan pendidikan bagi para siswa.
Hingga kondisi benar-benar aman, warga berharap seluruh kebijakan yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat dan pendidikan tetap mengutamakan keselamatan serta situasi faktual di lapangan.
Global Investigasi News (GINEWS) — Mengungkap Fakta, Menyuarakan Kebenaran.




