Mandailing Natal, 4 Agustus 2026
Global Investigasi news.my.id
Desa Batahan III, Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal kembali dilanda banjir akibat tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut pada Selasa (4/8/2026). Kondisi banjir dilaporkan langsung oleh Kepala Desa Batahan III, Rendy, melalui akun resmi media sosialnya.
Dalam video laporan tersebut terlihat banjir telah merendam Jalan Poros Desa Batahan III dengan ketinggian air sekitar 50–60 sentimeter, mengakibatkan akses utama masyarakat tidak dapat dilalui kendaraan. Aktivitas warga pun praktis terganggu.
Rendy menjelaskan bahwa dampak banjir tidak hanya memutus akses jalan, tetapi juga merendam sekitar 80 persen lahan pertanian warga, serta menggenangi kantor desa, sekolah, dan sejumlah fasilitas umum. Beruntung, hingga saat ini air belum masuk ke dalam rumah-rumah warga.
«”Sekitar 80 persen lahan warga terendam banjir. Rumah-rumah warga, kantor, dan sekolah juga terdampak. Namun rumah warga masih dalam titik aman, belum sampai masuk ke dalam rumah,” ujar Rendy dalam video laporannya.»
Banjir juga menyebabkan aliran listrik padam total sejak malam sebelumnya. Warga menyebut debit air sempat surut pada siang hari, namun kembali naik pada sore hari seiring hujan yang kembali mengguyur kawasan tersebut.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa Desa Batahan III merupakan salah satu wilayah yang kerap terisolasi saat banjir besar melanda. Ketika debit air terus meningkat, akses darat menjadi lumpuh sehingga proses evakuasi maupun penyaluran bantuan sangat bergantung pada transportasi air.
Karena itu, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, BPBD, dan Basarnas segera melakukan langkah antisipasi dengan menyiagakan perahu karet beserta personel penyelamat di wilayah Batahan. Kesiapsiagaan tersebut dinilai sangat penting agar evakuasi dapat dilakukan dengan cepat apabila kondisi banjir memburuk.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa. Namun kerugian materi masih dalam pendataan oleh pemerintah desa. Warga juga membutuhkan dukungan logistik, air bersih, serta perhatian serius dari pemerintah agar penanganan bencana tidak terlambat ketika situasi darurat terjadi.
Bencana yang terus berulang setiap musim hujan seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kesiapsiagaan. Kehadiran personel dan peralatan evakuasi sebelum kondisi memburuk akan jauh lebih efektif daripada menunggu hingga masyarakat benar-benar terisolasi (MO).




