PULANG PISAU- Global InvestigasiNews, Senin 17 Agustus 2926. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. BBM bersubsidi jenis Pertalite disebut semakin sulit diperoleh, bahkan BBM nonsubsidi seperti Pertamax juga mengalami kesulitan di sejumlah titik pengisian.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan roda dua maupun roda empat mengular di sejumlah SPBU maupun APMS. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM.
Situasi ini membuat sebagian konsumen memilih membeli BBM melalui pengecer meski harus membayar jauh lebih mahal. Pertalite di tingkat pengecer disebut mencapai sekitar Rp15.000 per liter, sementara Pertamax dijual sekitar Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter, tergantung lokasi dan kondisi ketersediaan.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan nama lengkapnya, sebut saja Adul, mengaku sangat mengeluhkan kondisi tersebut. Menurutnya, masyarakat berada dalam posisi sulit karena BBM merupakan kebutuhan utama untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
“Mau tidak mau kami membeli di pengecer walaupun harganya mahal. Kalau harus antre berjam-jam di SPBU atau APMS, pekerjaan kami bisa terbengkalai. Kendaraan tetap harus digunakan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga,” keluh Adul.
Ia mengatakan persoalan sulitnya mendapatkan BBM tersebut bukan baru terjadi sehari atau dua hari, melainkan telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin memberatkan masyarakat di tengah situasi ekonomi yang masih sulit. BBM bersubsidi yang seharusnya dapat membantu masyarakat justru sulit diperoleh, sementara membeli melalui pengecer membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar.
“Kami berharap pemerintah daerah tidak tinggal diam. Tolong diantisipasi dan dicari tahu apa penyebab BBM sulit didapat. Kalau memang ada persoalan distribusi, kuota, atau masalah lainnya, masyarakat perlu mendapatkan penjelasan,” ujarnya.
Warga juga berharap Bupati Pulang Pisau Ahmad Rifa’i dapat turun langsung melihat kondisi di lapangan, terutama antrean panjang kendaraan di SPBU maupun APMS.
Masyarakat menilai pemerintah daerah perlu berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk instansi yang menangani distribusi BBM, agar pasokan dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan kelangkaan berkepanjangan.
Selain itu, pengawasan terhadap penjualan BBM di tingkat pengecer juga dinilai penting untuk memastikan harga yang dibebankan kepada masyarakat tidak semakin memberatkan.
Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti sulitnya memperoleh Pertalite maupun Pertamax di sejumlah titik di Kabupaten Pulang Pisau masih perlu mendapatkan penjelasan resmi dari pihak berwenang.
Masyarakat pun menanti langkah konkret pemerintah agar persoalan antrean panjang dan sulitnya mendapatkan BBM tidak terus berulang serta tidak semakin menambah beban ekonomi warga.(Romi)




