HALMAHERA SELATAN – Penolakan terhadap operasional transportasi berbasis aplikasi Maxim di Kota Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), kembali memanas. Dalam aksi demonstrasi jilid II yang digelar di depan Kantor Bupati Halsel, Jumat (23/10/2026), para pengemudi ojek lokal mendesak pemerintah daerah agar tidak memberikan rekomendasi bagi operasional Maxim sebelum persoalan yang menyangkut mata pencaharian mereka mendapatkan penyelesaian.
Dalam aksi tersebut, para pengemudi ojek lokal menyampaikan penolakan keras terhadap kehadiran Maxim. Mereka khawatir persaingan tarif dengan layanan berbasis aplikasi itu akan berdampak langsung terhadap pendapatan para pengemudi lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari jasa transportasi di Kota Labuha dan sekitarnya.
Di hadapan pemerintah daerah, salah satu orator menegaskan bahwa para pengemudi ojek lokal tidak menerima kehadiran maupun operasional Maxim begitu saja di wilayah Labuha.
“Kami menolak keras kehadiran Maxim di Kota Labuha. Pemerintah daerah harus mendengar aspirasi kami. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru mengorbankan mata pencaharian masyarakat lokal yang setiap hari berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” tegas orator di hadapan massa aksi.
Menurut massa aksi, perbedaan tarif antara Maxim dan ojek lokal dikhawatirkan membuat pengemudi lokal semakin kesulitan mendapatkan penumpang. Karena itu, mereka mendesak Pemda Halsel segera mengambil langkah konkret dan memberikan kepastian mengenai status perizinan operasional Maxim.
OJEK LOKAL ANCAM KEMBALI BERAKSI JIKA TUNTUTAN DIABAIKAN
Para pengemudi ojek lokal menegaskan bahwa aksi jilid II merupakan bentuk keseriusan mereka dalam memperjuangkan keberlangsungan mata pencaharian. Mereka meminta pemerintah daerah tidak hanya menerima aspirasi, tetapi juga mengambil langkah nyata untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut.
Massa aksi bahkan menyatakan akan kembali melakukan pemboikotan apabila pemerintah daerah tidak memberikan penyelesaian. Mereka menegaskan bahwa aksi yang dimaksud bukan tindakan anarkis, melainkan bentuk protes untuk mendes.
Kabiro Halsel.
(Alimudin)







