CIPARAY, KABUPATEN BANDUNG — Tokoh masyarakat Ciparay sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten Bandung, H. Asep Ikhsan, SE., S.Pd., MM., mendukung penguatan program Pentahelik yang didorong Pemerintah Kabupaten Bandung di bawah kepemimpinan Bupati Bandung Dadang Supriatna.
Namun, dukungan tersebut disertai pesan tegas: Pentahelik tidak boleh berhenti pada seremoni, slogan, atau sekadar agenda pertemuan.
Saat berbincang dengan awak media Global Investigasi News di Graha Wirakarya Ciparay, Kamis (3/9/2026), Asep menilai Pentahelik memiliki nilai strategis karena mempertemukan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media dalam satu kekuatan kolaborasi pembangunan.
«“Pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat sendirian. Dibutuhkan kolaborasi dan kepedulian seluruh unsur,” tegas Asep.»
Masyarakat Harus Menjadi Pelaku.
Menurut Asep, ukuran keberhasilan Pentahelik bukan sekadar banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan sejauh mana masyarakat benar-benar terlibat dan merasakan manfaatnya.
Warga, kata dia, jangan ditempatkan hanya sebagai penerima program. Masyarakat harus diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi, ikut mencari solusi, berpartisipasi dalam pembangunan, sekaligus menjalankan fungsi pengawasan sosial secara konstruktif.
«“Masyarakat bukan hanya objek pembangunan, tetapi juga bagian dari solusi,” ujarnya.»
Pandangan tersebut, menurut Asep, sekaligus menjadi bagian penting dari edukasi publik. Masyarakat perlu memahami bahwa pembangunan daerah merupakan tanggung jawab bersama dan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.
Ciparay Harus Menjadi Contoh.
Asep mendorong agar konsep Pentahelik diterapkan secara konsisten hingga tingkat kecamatan, desa, bahkan lingkungan masyarakat.
Pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan. Dunia usaha memiliki kekuatan ekonomi. Akademisi menghadirkan pengetahuan dan kajian. Media menjalankan fungsi informasi serta edukasi. Sementara masyarakat memiliki pengalaman langsung terhadap persoalan yang terjadi di lingkungannya.
Jika seluruh unsur tersebut bergerak dalam satu ekosistem kolaborasi, persoalan daerah dapat dibahas lebih terbuka dan solusi dapat dirumuskan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat.
«“Pentahelik harus menjadi budaya kolaborasi. Pemerintah memberikan arah, masyarakat ikut bergerak, dan seluruh stakeholder bersama-sama mencari solusi,” kata Asep.»
Jangan Ukur dari Seremoni
Asep menegaskan, Pentahelik harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
Karena itu, komunikasi, edukasi, partisipasi, transparansi, pengawasan sosial, dan gotong royong harus menjadi ruh pelaksanaannya.
Pesan dari Ciparay itu jelas: masyarakat jangan hanya menjadi penonton pembangunan.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Masyarakat harus ikut bergerak, memberikan gagasan, mengawal program, serta menjaga hasil pembangunan.
Bagi Asep, Pentahelik akan memiliki makna strategis apabila mampu berubah dari sekadar konsep menjadi budaya kolaborasi yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan Kabupaten Bandung diharapkan semakin partisipatif, responsif, edukatif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Sumber: Redaksi Asep Ikhsan, SE., S.Pd., MM.




