Mandailing Natal 01/09/2026
Global Investigasi news.my.id
Ironi Pendidikan: Empat Bersaudara Tak Sekolah, Kepala Dinas Pendidikan langsung Turun Tangan, Berita di kutip dari DPR JALANAN ” SYAHREN HASIBUAN.

MANDAILING NATAL, SUMUT — Persoalan anak putus sekolah di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kembali menjadi sorotan serius. Di tengah upaya pemerintah mengejar pemerataan pendidikan, masih ditemukan anak-anak yang harus kehilangan haknya untuk mengenyam pendidikan akibat berbagai persoalan.
Ironisnya, persoalan tersebut bukan sekadar angka di atas kertas. Sehari sebelumnya, Senin (31/8/2026), ditemukan satu keluarga di Madina dengan empat orang anak yang tidak mendapatkan pendidikan secara layak. Tiga di antaranya diketahui telah putus sekolah, sementara satu anak lainnya bahkan belum pernah merasakan bangku sekolah.
Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian langsung dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal.
Kepala Dinas Pendidikan Madina, dr. MHD Faisal S, bersama jajarannya turun langsung melihat kondisi keluarga tersebut. Kunjungan itu sekaligus menjadi langkah awal untuk memastikan anak-anak tersebut kembali mendapatkan hak mereka atas pendidikan.
Faisal mengatakan, pemerintah tidak boleh membiarkan persoalan pendidikan hanya berhenti pada pendataan. Setiap anak yang berada di luar sistem pendidikan harus dicari penyebabnya dan diberikan jalan keluar.
“Kedatangan kami hari ini untuk menindaklanjuti dan menjawab kebutuhan anak bangsa,” ujar Faisal kepada awak media, Selasa (1/9/2026).
Untuk salah seorang anak, Dinas Pendidikan Madina telah memberikan bantuan kebutuhan sekolah. Anak tersebut dijadwalkan mulai bersekolah di SD Negeri 111 Pidoli Dolok.
“Untuk satu anak kita tuntaskan dan serahkan bantuan keperluan sekolah. Jadi besok anak ini akan masuk ke SD Negeri 111 Pidoli Dolok,” ungkapnya.
Sementara tiga saudara lainnya yang sebelumnya telah putus sekolah, Dinas Pendidikan Madina akan mengupayakan agar mereka kembali mendapatkan pendidikan melalui program sekolah paket.
“Untuk ketiga saudaranya kita upayakan masuk sekolah paket dalam dua minggu ini,” katanya.
1.370 Anak Putus Sekolah, Angka yang Mengkhawatirkan
Namun persoalan empat bersaudara tersebut ternyata hanya satu gambaran kecil dari masalah pendidikan yang lebih besar di Kabupaten Mandailing Natal.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Madina mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, terdapat 1.370 anak yang tercatat putus sekolah pada jenjang SD dan SMP.
Bahkan Faisal menyebut angka tersebut tergolong sangat tinggi dan menurut penilaiannya termasuk yang tertinggi di Sumatera Utara.
“Menurut saya, siswa putus sekolah di Madina tergolong tertinggi di Sumatera Utara. Kejadian anak putus sekolah di Madina mencapai 1.370 anak. Jumlah ini meliputi SD dan SMP,” ujar Faisal, Selasa (1/9/2026).
Pernyataan tersebut tentu menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan di Mandailing Natal.
1.370 anak bukan sekadar angka statistik. Di balik angka itu ada 1.370 masa depan yang berpotensi tertinggal apabila tidak segera ditangani.
Ada anak yang mungkin berhenti sekolah karena kemiskinan. Ada yang terkendala administrasi. Ada pula yang mungkin menghadapi persoalan keluarga, jarak sekolah, lingkungan sosial, hingga berbagai faktor lainnya.
Karena itu, persoalan anak putus sekolah tidak cukup hanya dijawab dengan bantuan seragam atau perlengkapan sekolah. Pemerintah perlu mengetahui secara jelas mengapa anak-anak tersebut meninggalkan bangku sekolah dan apa yang menyebabkan mereka tidak kembali.
Dinas Pendidikan Turunkan Pengawas dan Korwil
Menanggapi tingginya angka tersebut, Faisal mengaku telah menginstruksikan jajaran Dinas Pendidikan, termasuk pengawas dan Koordinator Wilayah (Korwil), untuk turun langsung ke lapangan.
Mereka diminta melakukan pendataan sekaligus menggali penyebab anak-anak tersebut sampai putus sekolah.
“Atas jumlah itu, saya sudah mengingatkan tim, antara lain pengawas dan Korwil, untuk turun dan mendata apa




