SINGKIL – 12 Agustus 2026
Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap mengikis identitas lokal, warga Desa Ujung Bawang dan Desa Pea Bumbung, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, kembali membuktikan keteguhan mereka dalam menjaga warisan leluhur.
Pada Kamis (12/8/2026), ratusan warga berkumpul di Paser Rimis, sebuah hamparan pasir alami di tepian sungai, untuk melaksanakan tradisi Tulak Bala.
Suasana Siang itu terasa khidmat namun penuh kehangatan.
Tenda-tenda sederhana didirikan sebagai pelindung dari terik matahari, di bawahnya terbentang tikar-tikar anyaman yang menjadi tempat duduk para tetua adat, ibu-ibu, dan bapak-bapak.
Sementara itu, riuh rendah tawa anak-anak memecah kesunyian alam saat mereka bermain air di bantaran sungai yang saat itu surut, menciptakan harmoni indah antara kesakralan ritual dan keceriaan masa kecil.
Tulak Bala, yang secara harfiah berarti menolak bencana atau penyakit, bukan sekadar upacara seremonial.
Ini adalah manifestasi doa kolektif masyarakat kepada Sang Khaliq agar dijauhkan dari segala bentuk malapetaka.
Tradisi yang telah berusia ratusan tahun ini biasanya dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar, saat itu juga antusiasme warga dua desa tersebut menunjukkan bahwa nilai spiritual ini tetap hidup di hati mereka.
Acara dimulai dengan lantunan azan yang menggema di lembah sungai, menandai panggilan untuk Sholat Ashar berjamaah.
Dipimpin oleh seorang imam setempat, jamaah khusyuk melaksanakan ibadah, dilanjutkan dengan sesi doa bersama.
Dalam momen hening tersebut, harapan-harapan baik dilantunkan demi keselamatan kampung halaman dari wabah penyakit dan bencana alam.
Seorang tokoh masyarakat setempat, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan keprihatinannya sekaligus kebanggaan melihat tradisi ini masih bertahan.
Menurutnya, pada akhir dekade 90-an, khususnya tahun 1998, Tulak Bala adalah pemandangan umum di hampir setiap desa di Singkil.
Namun, pergeseran zaman dan masuknya budaya asing yang kurang berpihak pada kearifan lokal membuat tradisi ini kian langka.
“Di era milenial ini, banyak tradisi kita nyaris dimakan oleh modernitas.
Sangat jarang kita menemukan generasi muda atau bahkan komunitas desa yang masih konsisten menggelar Tulak Bala dengan khidmat seperti ini,” ujarnya kepada media.
Ia menekankan bahwa Tulak Bala bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang kohesi sosial.
“Ini adalah momen bagi kita untuk bercengkrama, mempererat silaturahmi, dan melakukan zikir bersama.
Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar spiritual agar kita semua terhindar dari marabahaya,” tambahnya.
Melihat antusiasme warga yang sangat tinggi, tokoh tersebut mengajak Pemerintah Desa, khususnya yang berada di daerah aliran sungai, untuk lebih proaktif dalam menghidupkan kembali tradisi serupa.
Ia menilai bahwa dukungan kebijakan dan fasilitas dari pemerintah lokal dapat menjadi stimulan bagi generasi muda untuk tidak malu melestarikan budayanya sendiri.
“Pemerintah Desa perlu mengambil peran strategis.
Jangan biarkan kearifan lokal ini hilang ditelan zaman.
Dengan menghidupkan kembali Tulak Bala, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjaga jiwa masyarakat agar tetap tenang, bersatu, dan terlindungi,” pungkasnya.
Keberhasilan pelaksanaan Tulak Bala di Desa Ujung Bawang dan Pea Bumbung ini menjadi bukti nyata bahwa meskipun zaman berubah, akar budaya yang kuat tetap mampu menjadi penopang identitas masyarakat Singkil di tengah tantangan globalisasi.
(Nama Penulis/B.Hutabarat)



