Banyuwangi, Jatim, 4 Agustus 2026 – Di balik pesatnya perkembangan Banyuwangi sebagai daerah wisata dan budaya, masih tersimpan jejak sejarah panjang yang menjadi bagian penting dari peradaban tanah Blambangan. Namun, sebagian peninggalan tersebut hingga kini masih minim perhatian dan belum banyak dikenal masyarakat luas.
Berangkat dari kepedulian terhadap pelestarian sejarah lokal, Tim Info Warga Banyuwangi (IWB) melakukan napak tilas ke sejumlah situs bersejarah di kawasan Selogiri dan Watu Dodol, Selasa (4/8/2026). Kegiatan tersebut bertujuan menelusuri keberadaan makam para leluhur, peninggalan bersejarah, sekaligus mengungkap kembali silsilah keturunan Raja Blambangan yang diyakini masih berlanjut hingga saat ini.
Perjalanan diawali di kawasan Selogiri, sebuah lokasi yang masih menyimpan banyak jejak sejarah masa lampau. Di tempat tersebut terdapat kompleks makam kuno yang berada di lingkungan alami dan relatif jauh dari jangkauan publik.
Di kompleks itu terdapat makam Syekh Maulana Ahmad yang dikenal dengan nama Tumenggung Aning Patih. Makam tersebut berdampingan dengan makam Syekh Maulana Hening yang memiliki keterkaitan erat dalam garis keturunan yang ditelusuri Tim IWB.
Selain makam para leluhur, perhatian tim juga tertuju pada keberadaan sebuah batu Lingga yang diyakini sebagai peninggalan leluhur Tumenggung Aning Patih. Meski telah berusia sangat tua, batu tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu bukti fisik yang menguatkan keberadaan jejak sejarah di kawasan Selogiri.
Selama hampir satu jam, tim melakukan observasi dan dokumentasi terhadap kondisi situs. Dari hasil pengamatan, sejumlah peninggalan sejarah masih terjaga keasliannya. Namun minimnya informasi, penanda sejarah, dan upaya publikasi membuat keberadaan situs tersebut belum banyak diketahui masyarakat.
Usai dari Selogiri, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Watu Dodol yang selama ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata. Di balik keindahan panorama pesisirnya, kawasan tersebut ternyata menyimpan nilai sejarah yang tidak kalah penting bagi perjalanan tanah Blambangan.
Di area bukit bagian atas Watu Dodol, Tim IWB mengunjungi makam Syekh Maulana Ishaq, tokoh yang dikenal memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Blambangan. Dalam sejarah, Syekh Maulana Ishaq juga tercatat sebagai menantu Raja Blambangan melalui pernikahannya dengan Dewi Sekardadu.
Dari pasangan tersebut lahirlah Raden Paku atau Raden Joko Samudro yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri, salah satu tokoh Wali Songo yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Tidak jauh dari makam Syekh Maulana Ishaq, terdapat makam Haji Muhammad Muji yang menurut catatan silsilah keluarga merupakan keturunan langsung atau cicit dari Syekh Maulana Ishaq. Keberadaan makam tersebut menjadi salah satu bukti kesinambungan garis keturunan yang masih dapat ditelusuri hingga masa sekarang.
Dalam penelusuran tersebut, Tim IWB juga menghimpun kembali silsilah keluarga yang diwariskan secara turun-temurun oleh keturunan Raja Blambangan. Silsilah itu dimulai dari Prabu Menak Sembuyu sebagai Raja Blambangan, kemudian Dewi Sekardadu bersama Syekh Maulana Ishaq yang melahirkan Raden Paku atau Sunan Giri.
Garis keturunan tersebut berlanjut kepada Syekh Maulana Ahmad atau Tumenggung Aning Patih, Syekh Maulana Hening, Syekh Maulana Yasin, Abdullah, Ali Akbar, Rahmad Agung, Haji Muhammad Muji, Haji Muin Giri, Haji Muhammad, Haji Ahmad Safi’i, Haji Mahmud Emran, Haji Imbaran Aji, Haji Empran, Safi’i, hingga akhirnya sampai kepada Amir Ma’ruf Khan sebagai generasi penerus saat ini.
Ketua Info Warga Banyuwangi (IWB), Abi Arbain, mengatakan bahwa hasil penelusuran tersebut menunjukkan masih banyak warisan sejarah Blambangan yang tersimpan dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
“Selogiri dan Watu Dodol bukan hanya sekadar lokasi makam, melainkan bagian dari jejak peradaban besar Blambangan yang memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah Banyuwangi. Di tempat-tempat ini terdapat bukti fisik, silsilah keturunan, serta nilai budaya yang sangat penting untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Abi Arbain.
Menurutnya, keberadaan makam para leluhur dan batu Lingga merupakan bukti bahwa sejarah Blambangan tidak hanya hidup dalam cerita lisan, tetapi juga hadir dalam bentuk peninggalan nyata yang masih dapat disaksikan hingga saat ini.
“Kami tidak ingin generasi muda kehilangan jejak sejarahnya sendiri. Jika situs-situs seperti ini tidak didata, tidak dirawat, dan tidak dilestarikan, maka lambat laun keberadaannya bisa hilang. Padahal di balik situs-situs ini tersimpan identitas, kebanggaan, dan perjalanan panjang masyarakat Banyuwangi,” tegasnya.
Abi Arbain juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah daerah, budayawan, akademisi, pemerhati sejarah, serta masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan mengangkat kembali sejarah asli Blambangan.
“Sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk jati diri sebuah daerah. Banyuwangi memiliki warisan peradaban yang besar dan bernilai tinggi. Sudah sepatutnya situs-situs bersejarah seperti Selogiri dan Watu Dodol mendapatkan perhatian, perlindungan, dan pelestarian yang layak agar tetap dapat diwariskan kepada anak cucu di masa mendatang,” pungkasnya.
Napak tilas yang dilakukan Tim IWB ini tidak hanya membuka kembali lembaran sejarah yang selama ini tersimpan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa tanah Blambangan menyimpan warisan peradaban yang besar. Di balik kesunyian makam-makam tua dan peninggalan leluhur tersebut, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan kerajaan, penyebaran agama, serta garis keturunan yang masih hidup hingga hari ini sebagai bagian dari identitas sejarah Banyuwangi.
(Sp/Tim)



