Merangin, 26 Juli 2026 – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Kecamatan Tabir Ulu dan Tabir Barat, Kabupaten Merangin, Jambi, kembali menjadi sorotan. Sejumlah warga meminta aparat penegak hukum bertindak tegas setelah muncul informasi adanya dugaan penolakan terhadap razia yang dilakukan personel Mabes Polri di lokasi tambang ilegal beberapa waktu lalu.
Sebelum pelaksanaan razia, masyarakat Desa Talentam telah berulang kali mengeluhkan dampak aktivitas PETI yang diduga menyebabkan pencemaran Sungai Batang Talentam dan Sungai Batang Tabir. Warga menilai kerusakan lingkungan yang terjadi telah mengganggu pemanfaatan air sungai serta merusak ekosistem yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kepada Globalinvestigasinews.com bahwa saat personel Mabes Polri melakukan penertiban, mereka mendapat penolakan dari sekelompok warga. Menurut sumber tersebut, sejumlah ibu-ibu juga ikut menyampaikan penolakan terhadap razia yang berlangsung.
Sumber itu menduga aksi penolakan tersebut tidak terjadi secara spontan, melainkan terdapat pihak yang diduga mengoordinasikan atau memprovokasi massa. Ia juga menyebut inisial MK sebagai sosok yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas PETI di wilayah tersebut. Namun demikian, informasi tersebut masih berupa keterangan dari narasumber dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Selain itu, warga juga menduga terdapat dua unit alat berat jenis Zoomlion dan Sany yang digunakan dalam aktivitas pertambangan ilegal dan diduga berkaitan dengan MK. Dugaan tersebut hingga kini belum memperoleh tanggapan atau klarifikasi dari pihak yang disebutkan.
Di sisi lain, tidak semua masyarakat mendukung keberadaan PETI. Sejumlah warga Desa Talentam justru mendesak aparat penegak hukum agar segera menindak aktivitas pertambangan ilegal yang dinilai telah menyebabkan kerusakan lingkungan dalam skala besar.
«”Aktivitas PETI di Kecamatan Tabir Barat dan Tabir Ulu sudah cukup parah. Sungai Talentam dan Sungai Tabir sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi karena mengalami kerusakan. Kami berharap aparat segera bertindak,” ujar salah seorang warga.»
Berdasarkan hasil penelusuran awak media di lapangan, masyarakat menyebut aktivitas tambang ilegal menggunakan alat berat di kawasan tersebut diduga telah berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan lebih dari satu pelaku. Informasi tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari aparat penegak hukum.
Masyarakat berharap aparat tidak terpengaruh oleh adanya penolakan dari segelintir pihak dan tetap menjalankan proses penegakan hukum secara profesional. Warga menilai persoalan PETI bukan hanya berkaitan dengan pelanggaran hukum, tetapi juga berdampak terhadap kerusakan lingkungan, pencemaran sumber air, serta keberlangsungan hidup masyarakat di sekitar Sungai Batang Talentam dan Sungai Batang Tabir.
«”Kami berharap alat berat yang diduga digunakan untuk aktivitas PETI segera diamankan. Kami ingin aktivitas tambang ilegal di Tabir Barat dan Tabir Ulu benar-benar dituntaskan karena dampaknya sangat merugikan masyarakat dan lingkungan,” ungkap warga lainnya.»
Hingga berita ini diterbitkan, pihak yang disebut dalam pemberitaan, termasuk MK, belum memberikan keterangan maupun klarifikasi. Redaksi juga masih berupaya menghubungi yang bersangkutan untuk memperoleh konfirmasi terkait informasi yang berkembang.
Catatan Redaksi: Seluruh informasi mengenai dugaan keterlibatan pihak tertentu dalam aktivitas PETI maupun dugaan adanya provokasi saat razia masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui proses penyelidikan dan penyidikan oleh aparat penegak hukum. Redaksi membuka ruang hak jawab dan hak koreksi kepada seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
(Fik/Global Investigasi News Jambi)



